Aroma lezat tercium ketika aku dan kiruk tiba di sebuah desa. Desa kecil di lereng gunung Izen. Desa ini memang terkenal dengan masakannya yang lezat.
“wahh… sudah lama nggak kesini. Aromanya tambah bervariasi saja”. Aku sambil melewati gapura desa itu.
Di sebelahku kiruk memperhatikan suasana desa “Perasaan terakhir kesini nggak seterang ini?”.
“mungkin karena terkenal dengan masakannya. Katanya banyak saudagar kaya yang jauh-jauh kesini hanya untuk menikmati makananya. Makanya mulai banyak dihiasi lampu-lampu”. aku mencoba menjawab.
“terutama makanan rendang itu. dengan warna coklat kehitaman yang mengkilap di permukaan daging, yang dimasak lama hingga empuk dan berair, rempah-rempah dan santan yang meresap dengan sempurna. Saat memasuki mulut, terasa begitu lembut dan gurih menciptakan perpaduan rasa manis dan sedikit pedas. uiiiihhh…” Aku membayangkan makanan itu, tanpa disadari air liurku keluar.
“Kira-kira Duna lagi dimana ya?” Tiba-tiba kiruk bertanya memecahkan bayanganku tentang makanan rendang.
Aku sedikit mengusap mulut, malu jika dilihat oleh kiruk.
“sruuppp…eh… ohh….coba kita cek ke tempat ramai itu” aku sedikit kaget sambil reflek menunjuk ke tempat keramaian.
“yaudah ayo coba kesana”. Ajak Kiruk
Tertulis di depan toko “Kedai Jaya Makmur”. di depan toko banyak kerumunan sedang berbaris, seperti menunggu antrean makan, padahal terlihat meja sudah penuh. suasana malam yang hangat di desa memang membuat kesan lapar. lampu remang-remang dan gambar-gambar makanan yang lezat membuat perut ini keroncongan.
“kamu nggak merasa lapar Ruk…?” tanyaku
“lumayan, apa kita makan dulu aja?” balansya.
“boleh, tapi disini ramai coba tempat lain aja” sambil melihat kesekitar
“kita coba kesana yuk” ajak kiruk
“mana?” aku mencari-cari tempat yang ditunjuk kiruk
“itu yang ada di atas batu” kiruk sambil munjuk ke arah batu besar.
Tidak terlihat seperti tempat makan, tapi ada meja dan kursi tertata di atas batu besar itu. “emang itu tempat makan ya?” tanyaku merasa keheranan.
“ga papa udah kita coba kesana, daripada di sekitar sini ramai” kiruk merasa yakin.
“yaudah ayo”
Kami pun jalan menuju tepat makan itu yang sedikit menanjak. melewati tangga bebatuan yang cukup terjal. Kita seperti sedang mendaki ke atas gunung.
Sebelum kita sampai ke kedai kita disambut dengan gapura kecil dihiasi dua lampu minyak kanan dan kiri. dengan tulisan di tengahnya “Selamat datang di Kedai Duna”. kami pun berhenti sejenak.
“Bentar… Duna membuka rumah makan?, kamu sudah tau kalau Duna disini?” Ucapku sambil menoleh ke arah Kiruk
“Belum… aku juga baru tau kalo Duna buka rumah makan. Feelingku aja yang membawa kesini” jawab kiruk, sambil menatap gapura kecil itu.
Kami berdiri lumayan lama memikirkan apa yang terjadi. “kebetulan macam apa ini. apa supaya ceritanya cepet aja…” ucapku dalam hati.
“okelah ayo kesana…” ajak kiruk sambil melangkah duluan
“mmm menarik…” ucapku sambil melangkah mengikuti kiruk di belakangnya.
Sebuah tempat makan yang cukup unik, dengan konsep outdoor. Berbeda dari tempat makan yang dari tadi kami lewati. kursi dan meja tertata rapi, ada juga yang lesehan. di tempat ini kita langsung disuguhi pemandangan desa dari atas, dihiasi dengan perbukitan lembah. ada rumah kecil di sebelah barat. dengan background gunung Izen di belakang rumah kecil itu. Sepertinya itu tempat pesan makanan, kerena terdapat poster list menu.
“ini tempat yang indah, tapi kenapa sepi sekali…” Pikirku
Kami perlahan menuju ke dalam tempat pemesanan. melihat ada seorang anak kecil, dengan pakaian pemasak, rambut sebahu di kemas dengan bando berwarna pink. telihat dia sedang…
“Sedang apa dia…” aku bergumam pelan. Melihat anak kecil itu memunggungi kita, sibuk dengan apa yang ada di belakangnya.
“Permisi” aku mencoba memanggil anak itu
Anak itu kaget setelah aku memanggilnya. dia berbalik kearah kami tapi sambil menyembunyikan benda di balik badannya. “ohh iya selamat datang di kedai kami…” dia menjawb dengan gagap. Suaranya lucu seperti anak-anak. Wajahnya yang sedikit memucat seperti takut ketahuan sesuatu.
“ehhh… anu” aku jadi ikut akward melihat tingkah anak itu
“Ini tempatnya Duna yaa…?” tiba-tiba kiruk bertanya
“oh iya kak….” jawab anak itu dengan tangan tetap berada di belakang.
“orangnya ada disini?” tanaya kiruk lagi
“he.. emm…” anak itu mengangguk, suara lucunya membuat gemas. “Kakak…..” Anak itu mulai memangil kakaknya. “kakak…..” belum ada jawaban dari kakanya, kemudian dia berjalan perlahan kedalam rumah dengan posisi tetap kearah kami berdua. menghalangi kami melihat apa yang ada di belakangnya.
“hihi… lucu ya anak itu” kataku sambil tertawa kecil
“iya kayak kamu..” celetuk kiruk.
tanganku reflek memukul perutnya mendengar respon aneh itu.
“ukh…” suara kiruk kesakitan sambil memegang perutnya, menahan pukulanku yang lumayan keras.
“Aneh” Ujarku sambil membuang muka karena geli mendengar itu keluar dari mulutnya.
Seseorang keluar dari dalam ruangan. Dengan rambutnya yang pendek rapi mengkilap oleh pantulan lampu di atasnya. Duna terlihat keluar dari dalam ruangan itu didiringi adiknya di belakangnya menempel erat di pingang kakanya.
“haloo” Duna menyapa dengan suaranya yang lembut namun masih terlihat seperti suara anak yang lucu.
“halo dunaa~” kiruk menjawab dengan suara menahan sakit
Aku tidak sadar ada Duna disitu karena masih ilfil
“ohhh Alnas sama Kiruk, lohh ada apa kesini? jarang-jarang banget” dengan suaranya yang lembut sambil tersenyum menyapa kami.
Aku menoleh ke arah Duna baru sadar dia sudah disini. “ohh halo Duna lama ga ketemu ya..” sambil kita berpelukan dan cipika-cipiki. “gimana kabarmu?” masih tetap mengengam tangannya
“Baik Nas… kamu gimana?” Balas Duna
“Baik…baik. ngomong-ngomong kamu buka toko Dun?”. Aku mulai bertanya
“hehe iya..kita ngobrol di sana aja yuk, gaenak sembil berdiri” Sambil menunjuk ke arah kursi pelanggan. “ohh ya.. mau minum apa atau mau makan sekalian?” Duna menawarkan
“ohh boleh… ada apa aja disini” sambil melihat list menu makanan.
“Nasi goreng, mie ayam, sate, Bakmie… wahh kayaknya enak-enak disini”. melihat-lihat menu sejenak mencari makanan apa yang cocok dimakan malam hari “Aku pesan nasi goreng aja sama minumnya teh hangat. Kau apa Kiruk?” aku melihat kiruk masih kesakitan
“samain aja~”
“okeh…itu kiruk kenapa?” tanya Duna
“oh gapapa kayaknya capek habis perjalanan tadi” balasku
“ohh oke segera kubuat, tunggu sebentar yaa” Duna dengan suaranya yang lucu terlihat semangat.
Kami berdua memilih tempat duduk paling ujung supaya bisa melihat pemandangan dengan jelas.
“makan yang hangat-hangat sambil melihat panorama desa sepertinya menyenangkan” pikirku
Melihat ke arah Kiruk yang terlihat masih memegang perutnya “Dasar lemah, gitu aja kesakitan”
“udah tau aku bukan ahli beladiri masih aja dipukul” jawabnya
“iya itu buat latihan biar kau kuat” balasku
Kiruk meletakkan kepalanya ke atas meja. aku baru sadar tidak melihat monsternya
“ohiya daritadi aku ga liat monstermu, kemana dia?” tanyaku
“aku tinggal di luar desa, katanya di sini ga diperbolehkan membawa masuk monster” jawab kiruk
“emangnya ga papa ditinggal gitu” tanyaku lagi
“dia kan monster petarung, pasti dapat membela diri” Jawabnya dengan rasa percaya diri.
Suasana malam yang dingin, dihiasi pemandangan panorama yang indah dipadukan dengan langit penuh bintang menjadi mahakarya yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Kami berdua melamun mengagumi pemandangan disini. tidak terasa Duna datang dengan membawa makanan kami.
“ini dia dua nasi goreng khas kedai Duna” sambil menyodorkan makanan yang kami pesan
Nasi goreng merah dengan telor dadar di atasnya dihiasi dengan toping mentimun dan sayur selada. Perpaduan yang dikemas dengan cantik menambah gairah makan kami. Rasa lapar yang dari tadi kutahan menambah kenikmatan makanan ini. Aku dan Kiruk makan dengan lahapnya sampai tidak sadar Duna memandangi kami dengan tersenyum puas.
“Kalian makan lahap sekali, aku jadi senang” Duna mulai membuka pembicaraan
“iya makananmu enak Dun” jawabku sambil minum teh yang masih hangat
“mulai kapan kamu buka kedai” Kiruk bertanya kepada Duna
“ya setelah kita pulang dari Pondok dulu. Aku mencoba belajar memasak dan akhirnya membuka kedai. Walaupun masakanku kadang hancur hehehe” ujar Duna.
“oiya kamu kan dulu suka masak ya” kataku merespon
“hehe” ucap Duna sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal
Kiruk bertanya dengan suara pelan “maaf nih Dun, tapi kenapa tempatmu sepi ya….padahal dari makanannya enak dan tempatnya bagus”.
Duna terdiam, menghela napas berat. Aku dan Kiruk saling menatap, sepertinya kiruk salah menanyakan pertanyaan.
“kalian tau kan di desa ini tidak boleh membawa monster”. ucap Duna
‘he emm” kami berdua mengangguk.
“Seperti yang kalian tau desa ini terkenal dengan kulinernya. Orang-orang disini beranggapan bahwa monster dapat merubah cita rasa makanan. Jadi jika ada monster ketika kita memasak, makanan itu jadi tidak enak”. Duna bercerita dengan sedikit sedih
Dengan isak tangis pelan Duna melanjutkan ceritanya “tapi itu tidak benar, monster tidak merubah cita rasa makanan. Aku sudah melakukan itu berkali-kali tapi tetap enak. Makanan yang kalian makan itu… enak kan?”.
“Enak kok…” kami menjawab dengan serempak
“mereka mengangap monster hanya sebagai bencana, tidak berguna, tidak bermanfaat. padhal mereka dapat membantu kita manusia dalam melakukan banyak hal. Seperti monsterku Lanatus, dia bisa membantuku memasak, mengangkat bahan-bahan, dan masih banyak lagi”. lanjut Duna dengan sedikit meneteskan airmata.
Duna mengusap air matanya “itulah kenapa tempat ini sepi. tapi tidak apa-apa, masih ada kok pelanggan yang datang. mereka yang datang selalu memuji tempat ini. Bagiku aku tidak perlu pelanggan yang banyak, aku hanya perlu pelanggan yang setia”.
kiruk mencoba memenangkan pembicaraan. “memang tidak semua orang bisa menjinakkan monster, karena itu butuh ilmu khusus. Mungkin orang-ornag disini kurang berinteraksi dengan monster jadi kurang tau-menau mengenai monster. Kita yang sudah belajar di pondok sudah paham tentang permonsteran ini”
“itu hanya butuh adaptasi Duna, jadi sabar saja” lanjut kiruk
“jadi yang adikmu bawa tadi adalah monster?” tanyaku penasaran
“iya itu anak Lanatus, Adikku merawatnya” jawabnya.
suara monster malam mulai terdengar mengaum di tengah perbincangan kita saat itu. suara monster (monster liar) suaranya sedikit menyeramkan, tapi itu jadi hal biasa disini.
“ngomong-ngomong kenapa kalian kesini?” Tanya Duna memcahkan keheningan saat itu.
“oiya jadi lupa” sambil kukeluarkan secarik surat dari guru darya. “jadi kita dipanggil oleh guru Deli, guru di pesantren kita” lanjutku
sembari memberikan surat itu ke Duna, surat yang berisi “Alnas panggil teman-temanmu untuk menuju kesini, ada suatu hal yang penting utnuk dibicarakan. Berangkatlah dengan segera”.
Duna memperhatikan surat itu dengan seksama. Ekspresinya berubah, seakan tau suatu hal.
“gimana Duna” Aku mencoba menanyakan kesiapan Duna
“apa harus membawa monster?” tanya Duna
“Untuk jaga-jaga, kita ga tau apa yang terjadi nanti di perjalanan” Kiruk menjawab
“oke besok pagi kita berangkat, kalian bisa menginap sementara di sini” ucap Duna
“oke baiklah” kembali kami mengucapkan dengan kompak.
Kami menutup percakapan malam itu dan bersiap-siap untuk tidur.
Cahaya mentari perlahan megusap wajahku. hangatnya membuatku terbangun dan menyipitkan mata. Silau cahaya pagi yang tepantul di sela-sela jendela menerangi kamarku. aku beranjak ke luar rumah sambil meregangkan badanku. ketika kubuka mata, terlihat kabut tipis melayang di atas hamparan pohon pinus, rumput yang masih basah oleh embun, menciptakan suasana pagi yang segar di atas gunung. kicauan monster terbang seakan menyambut hadirku.
“wahh… segarnyaaa” ucapku sambil menghirup udara gunung yang segar.
terdengar langkah dari belakang “udah bangun Nas…” Kiruk berjalan keluar seperti orang baru bangun tidur
“eh kiruk, iya nih baru aja bangun, segar sekali disini…” masih takjub dengan suasananya.
kiruk berjalan ke salah satu tempat duduk di depan, sambil mengusap kursi yang masih berembun, kemudian mengusapkan juga kursi sebelahnya. akupun ikut menuju tempat duduk itu dan ingin duduk di tempat yang telah diusap sama kiruk.
“heh… ngapain duduk” tegas kiruk
“ehh.. ini buat aku kan” aku keheranan
“kata siapa…” sambil mengambil kedua kursi itu, kemudian disatukan.
Setelah disatukan, dia tidur di atasnya sambil mendekapkan tangannya seperti orang kedinginan.
“uhhhh dingin sekali…” ucapnya sambil memejamkan mata.
sedikit kesal dengan kelakuannya akupun menendang kursi itu hingga dia terjungkal.
Brukkk…
Aku mengambil salah satu kursi yang jatuh tadi dan menggeser ke arahku supaya aku bisa duduk.
“Ukhh… kamu kenapa sih” keluh kiruk sambil beranjak bangun dari jatuhnya
“kamu ngeselin” jawabku jutek
terdengar suara dari depan rumah
“ehh kalian sudah bangun” suara Duna.
“iya baru saja bangun” jawabku
“kapan kita berangkat” tanya Duna sambil berjalan ke arah kami
terlihat dia sudah rapi dengan pakaiannya yang khas daerah sini. selendang menguntai di sebelah kanan pinggang Duna, sambil membawa tas yang terbuat dari bambu membentuk tabung dengan corak warna hitam dan coklat.
“Sekarang boleh, gimana kamu Ruk..” sambi aku menanyakan kesiapan kiruk
“aku panggil Kiwi dulu” jawabnya
tiba-tiba dari tas Duna mucul monster kecil lucu berwarna hijau gelap.
“eh itu monstermu” kaget melihat monster itu. “lucunya…, beda sekali dengan monsaternya kiruk” ucapku sambil melirik ke arah kiruk
“oke karena sudah siap semua ayo kita berangkat” ucap kiruk seakan dia tidak peduli dengan sindiranku tadi.
kita mulai menuruni bukit batu besar itu menuju ke perbatasan desa. terlihat orang-orang sedang membawa bahan-bahan pangan dari luar desa. desa yang sangat produktif, tanpa ada monster yang membantunya.
Setelah kita melewati perbatasan desa terlihat mosnter kiruk terbujur lemas di pinggir jalan. terdapat seperti cakaran monster malam di kakinya. kiruk pun kaget dan segera menghampirinya. untungnya kiwi masih hidup. dia terlihat masih tidur.
“apa yang terjadi..” aku dan Duna berlari ke arah kiruk yang sedang mengobati monsternya.
“spertinya dia diserang monster lain”. jawab kiruk panik
Aku dan Duna melihat ke arah monster itu. muka kami panik. monster itu mengerenyit seperti merasakan kesakitan dengan mata terpejam belum sadarkan diri.