Monster itu terlihat kesakitan, kakinya bergetar pelan.
“bagaimana ini!” ucapku panik
“sebentar…” saut Duna sambil mengeluarkan monsternya dari tasnya
“Lanatus tolong sembuhkan kiwi…” perintah Duna ke monsternya
monster itupun berjalan perlahan kemudian mengeluarkan cairan berwarna merah keruh. cairan itu mengalir melewati luka cakar. suara rintihan pelan terdengan di mulut kiwi. tidak lama kemudian ekspresi kiwi berubah santai seakan sudah kehilangan rasa sakit.
“oke tidak apa-apa, setelah ini lukanya akan sembuh” ujar Duna
“terimakasih duna” jawab kiruk
“ternyata monster juga bisa menyembuhkan ya?” tanyaku tidak tahu apa-apa
“iya monsterku tipe peliharaan, monster peliharaan biasanya memiliki kemampuan penyembuhan dan peningkatan kekuatan” jawab Duna
“apa kita bisa tunggu kiwi sampai terbangun, sebelum kita lanjutkan perjalanan?” cemas kiruk
Belum sempat kita menjawab kiwi tiba-tiba bergerak perlahan dan membuka matanya
“kiwi..kiwi… kamu tidak apa-apa” suara kiruk sambil memegang kepalanya dengan lembut
suara rauman kiwi pelan menandakan dia baik-baik saja.
“syukurlah…” ucp kiruk merasa lega sambil memeluk kiruk
monster itu terlihat baik-baik saja melihat ke sekeliling. dengan mukanya yang polos kemudian melihat ke arahku dan tersenyum. melihat itu aku sedikit tersenyum walau masih merasa monster itu bentuknya aneh.
tiba-tiba kiruk berdiri dan berkata “oke sepertinya baik-baik saja, ayo kita berangkat… ayo kiwi…” ajaknya tiba-tiba seperti tidak terjadi apa-apa
Disitu aku dan Duna heran melihat Kiruk dan mosnternya sudah berjalan duluan, seakan mengatakan hal yang sama di kepala kami “bocah ini kenapa dah…!”.
Kami melanjutkan perjalanan keluar dari perbatasan desanya Duna. Menuruni perbukitan yang tidak terlalu curam. melewati jembatan yang dibawahnya sungai yang mengalir deras. hingga kita sampai di sebuah prsawahan terasiring. terdapat pohon kelapa di setiap beberapa petak sawah. dibawah sawah itu terdapat sungai dengan bebatuan besar dan kecil. di sebelah sungai deretan pohon kelapa berbaris rapi membentuk garis yang lurus.
Kita berhenti di bawah pohon durian yang cukup besar. hanya di bawah pohon ini tanah yang landai. sepertinya biasa dipakai untuk istirahat orang yang bepergian.
“kita istirahat dulu di sini” ujarku
Duna menaruh tasnya yang berbentuk tabung itu. kemudian mengeluarkan beberapa makanan ringan. Sebuah kue lapis berwarna-warni yang kelihatannya enak.
“wah kue lapis ya…” ucapku
“iya tapi itu sisa jualan kemaren gakpapa kan hehe…” balas Duna
“gakpapa Duna, ini aja udah enak kok” ucap kiruk sambil mengambil salah satu kue lapis itu
“heh… asal ambil aja, belum juga dikeluarin semua” celetukku
“heheh gapapa kan emang buat kita ini” ujar Duna dengan tersenyum
Kiruk menjulurkan lidahnya seakan mengejekku. aku dengan kesal ikut mengambil kue lapis di dekatku.
Angin sepoi-sepoi mulai berhembus membuat suasan istirahat kami lebih nyaman. kami mulai memakan kue lapis buatan Duna yang enak. teksturnya lembut dan kenyal, begitupula rasanya yang manis dan gurih di mulut.
“aku ambil air dulu ya di sungai, buat kita mium” Ucap kiruk
kami berdua hanya menganguk. kiruk berjalan kebawah bersama monsternya sambil membawa kantung air. aku melihat monster Duna yang lucu keluar dari tas.
“kamu dapat dari mana monster lucu itu” Tanyaku.
Duna mngambil monster lucunya dan mulai bercerita “Jadi waktu itu aku sedang memasak di dalam hutan. belajar memasak sih lebih tepatnya, mencoba bahan-bahan yang aku dapatkan dari hutan. karena adanya kangkung jadi aku membuat kangkung”.
“tanpa aku sadari tiba-tiba di belakangku ada monster lanatus. aku kaget karena lunatus itu monster yang lanka. aku coba dekati dia, namum dia malah mundur. kemudian aku mundur dia malah maju. jadi aku penasaran apa yang membuatnya kemari. setelah kupikir-pikir sepertinya dia menyukai masakanku. aku ambil sesendok kuah tumis kangkung kemudian aku sodorkan ke monster itu. ternyata dia memang tertatik ke makananku. dia menyeruput kuah kangkung itu kemudian berputar-putar seperti kegirangan. kemudian aku jinakkan dia deh” Duna mengakhiri ceritanya.
“Sebentar aku belum faham nih masalah permonsteran ini bisa jelaskan beberapa?” tanyaku penasaran
“mmm… darimana ya menjelaskannya” Ucapnya sambil meletakkan telunjuknya di bawah bibirnya
“kalo dari yang aku pelajari di pondok, monster itu dibagi menjadi empat jenis ada monster pekerja, monster petarung, monster pemburu, dan monster peliharaan. Monster pemburu biasanya memiliki badan yang kuat, keras dan besar, dia suka pekerjaan yang berat-berat seperti mengangkat beban, menyangga pohon, menahan batu dan lain-lain. kemudian ada monster petarung, monster ini seperti namanya dia suka bertarung, monster ini biasanya susah untuk di jinakkan. makanya aku heran kiruk bisa menjinakkan monster petarung ternyata”. jelas duna
“itu kebetulan aja” celetukku
“Kemudian ada monster pemburu, monster ini biasanya tubunya kecil dan ramping, dia gesit, suka menyelinap. jika dibandingkan mungkin seperti ninja asassin. Kemudian yang terakhir ada monster peliharaan, monster ini tidak suka bertarung, biasanya kebanyakan monster ini bentuknya lucu, dia mempunyai kemampuan penyembuh dan dapat memberi obat kekuatan, seperti dokter lah”. Duna menjelaskan
“mmmm… terus gimana caranya menjinakkan monster” tanyaku lagi masih penasaran
“untuk menjinakkan monster sepertinya agak sulit, tergantung orang dan monster itu. dari buku yang aku baca untuk menjinakkan monster kita harus mempunyai kemistri dulu kepada monster itu, sebaliknya monster itu harus juga memiliki kemistri kepada kita. secara teori kita harus bisa bertatap-tatapan selama sepuluh detik. dalam sepuluh detik itu manusia dan monster tidak boleh mengalihkan pandagnan atau berkedip. jika salah satu berkedip maka kita gagal menjinakkan dia. monster tidak akan patuh terhadap perintah kita” jelas Duna
aku mendegarkan dengan sesama.
“seperti yang aku alami, saat aku dan lanatus saling menatap mata selama sepuluh detik aku merasa seperti ada percikan di dalam otakku. aku merasakan aku dapat terhubung dengan monsterku, mungkin itu yang dinamakan menjinakan monster” jelasnya sambil mengelus-elus monsternya
aku mengangguk-angguk kepalaku mulai faham.
“setiap monster juga memiliki karakteristik kekuatan yang berbeda-beda tapi pada umumnya mereka dibedakan dari kepekaan indra mereka. Ada monster yang peka terhadap suara, peka terhadap bau-bauan atau aroma, peka terhadap pengelihatan, dan ada yang peka terhadap lingkungan sekitar. seperti lunatus ini, dia peka terhadap aroma, sampai masaknku tercium olehnya hehe…” dia ngelus-elus monsternya lagi dengan gemas.
setelah aku dan Duna berbincang cukup lama, datanglah kiruk dan monstrnya. rambutnya basah seperti habis mandi.
“lama sekali ambil air..” celetukku
“iya sekalian mandi, airnya seger sekali” balasnya
“mana airnya, udah kering tenggorokanku” sambil menyodorkan tanganku meminta air
Kiruk memberikan kantong airnya kepadaku dan meminumnya. air segar menyiram tenggorokanku yang kering ini. rasa dingin pegunungan membuat rasa hausku hilang seketika. kiruk memberi kantung air satunya ke Duna dan diminumnya.
“aku tadi melihat ada desa di sebrang sungai, sepertinya tempat Rake sudah dekat” ucap Kiruk
“okeh ayo kita kemas dan berangkat” ajakku mulai mengemas barang-barang bawaan
kami pun melanjutkan perjalanan. meninggalkan tempat istirahat kami di bawah pohon durian itu. Menuruni sawah terasiring menuju sungai yang ada di bawah. Kami menyebrangi sungai yang arusnya kecil. karena disekitar situ tidak ada jembatan, kaki mulai menyentuh air, rasa segar terasa di pergelangan kaki. tidak heran kiruk mandi saat ke sungai ini.
“segar sekali airnya” ucapku
tidak ada respon dari keduannya. aku mulai mencipratkan air ke arah kiruk dengan kakiku.
“hey… “ kiruk menoleh ke arahku
“wleee…” sambil menjulurkan lidah kucoba membalas ejekan dia yang tadi dengan rasa puas
“awas kamu” keluh kiruk
Setelah melawati sungai yang segar tadi, kami mulai menanjak lagi. ketika sampai di atas kami disuguhkan pemandangan desa yang indah. rumah sederhana terbuat dari batu-bata merah yang diapisi semen. berjajar rapi di depan jalan yang berpaving. desa ini lebih modern dari desa duna, rata-rata bangunanya terbuat dari beton.
di desa ini monster dan manusia saling bekerja sama. terlihat monster pekerja sedang membantu membajak sawah. monster terbang membawa bahan-bahan bangunan, ada kayu, batu-bata, dan tanah. terlihat di sebrang desa ada perkebunan kelapa yang padat. tidak jauh dari situ ada kebun durian yang lebat buahnya.
kami mulai turun lagi menuju ke desa itu, mulai memasuki jalanan setapak dari paving yang dibuat rapi “desa yang indah ya..” ucapku
“kata orang desa ini menjunjung tinggi rasa persaudaraan, terlihat dari bagaimana mereka berteman dengan monster-monster itu. tidak hanya sesama manusia, tapi juga sesama makhuk yang lain, mereka tidak dimanfaatkan, tapi saling bermanfaat”. Ucap kiruk
“iya tumbuhan disinipun tumbuh subur, pohon-pohon berbuah lebat. baru kali ini aku lihat perpaduan antar makhluk yang akur” ucapku kagum
Terlihat Duna sangat meikmati pemandangan tanpa mengeluarkan satu patah katapun.
Ada seorang sedang menanamkan bijih padi di dekat jalan. akupun bertanya “permisi…”
orang itu berdiri sejenak dan menoleh kearah kami “iya kenapa neng” jawabnya lembut
“di desa ini ada yang namanya Rake” tanyaku
“ohh rake si penggulat itu, dia ada di tempat latihannya, kalian lurus aja kemudian belok kanan sedikti disebelah kiri ada rumah yang sampingya ada seperti kandang, sepertinya dia sedang latihan disana” jawabnya tanpa putus
“oh iya pak terimakasih banyak” ucapku sambil menunduk
“oh iya neng” balasnya
kami menuju kearah yang ditunjukan petani itu. di depan rumah warna abu-abu di sebelahnya ada seperti kandang dari bambu yang di tata rapi menyerupai pagar. Terdengar suara pukulan keras di dalam tempat itu. seperti orang sedang memukul samsak. Aku mengintip di sela-sela pagar bambu itu. aku melihat di dalamnya ada Rake dengan tubuhnya yang sedikit besar, berbeda sekali dari yang aku lihat dulu.
Rake terlihat sedang memukul sesuatu di depannya. gayanya seperti petinju ulung. Rake berdiri di depan sosok monster yang besar. Ukurannya menyamai ukuran Rake. otot-otot lengan dan bahunya menegang, siap untuk menghantam. Nafasnya berat, terdengar jelas di antara bunyi pukulan yang keras dan berirama. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum melepaskannya dalam satu tarikan napas yang kuat, sembari melayangkan pukulan keras ke monster di depannya.
“itu Rake ya…” tiba-tiba di sebelahku terdengan suaranya Duna yang ikut mengintip
“iya sepertinya, tapi kok beda dari yang dulu ya. Bukannya dia gemuk”. sahutku keheranan.
“wahh…. dia menggunakan cocoruit untuk latihan. keren juga” Ucap Duna terkagum-kagum
“monster itu memang cocok untuk menahan pukulan keras” lanjut Duna masih kagum
Pukulan demi pukulan diberikan Rake ke monster itu. tampak monster dengan kekuatannya mencoba menahan pukulan Rake, membuat monster itu perlahan mundur. Rake berhanti sejenak, mengambil nafas panjang membuat posisi kuda-kuda matang. Siap-siap untuk pukulan maut.
BRAK…!
Pintu di sebelah kanan kami terbuka. Monster cocoruit keluar terpental, jatuh secara tiba-tiba ke belakang hingga bagian tubuh terseret ke tanah.
Kami kaget melihat pukulan luar biasa itu. Rake keluar dari pintu itu menolong monsternya yang terjatuh, menepuk-nepuk monsternya sambil berkata “kerja bagus kawan”. sambil membantunya berdiri.
“eh… Alnas, Kiruk, Duna. Kok kalian disini” Rake melihat ke arah kami yang masih tercengang dengan apa yang terjadi barusan.
“hehe… halo Rake” jawabku pelan. Duna dan Kiruk hanya melongo di sebelahku
Matahari berada tepat di atas kami. rasa panas mulai terasa di permukaan kulit. keringat mengucur perlahan di sela-sela telinga. kami di ajak Rake ke sebuah gubuk kecil dekat sawah. Sesekali angin berhembus menghapus hawa panas yang masih terasa. tapi itu sudah cukup untuk mengurangi panas. Rake datang membawa empat kelapa yang sudah dipotong atasnya. badanya berisi, kulitnya sawo gelap, rambutnya ikal bergelombang, mukanya sedikit tirus. Berbeda seperti terakhir kami melihatnya, kepalanya seperti buah kelapa yang dipotong sisi kanan dan kirinya.
“Silahkan diminum kelapa segar langsung dari pohonnya” Rake mulai menyuguhkan kelapa yang dibawanya
“wahh keliatannya segar” jawabku sumringah
“wow besar-besar kelapa disini” ucap kiruk di sebelahku
Duna hanya tersenyum
“Kamu berbeda ya Rake, padahal hanya 3 tahun, penampilanmu sudah berubah gini” ucap kiruk sambil meminum kelapa
“heheh…. iya sejak pulang dari pondok aku coba merubah badanku. masak mau jadi gendut terus haha…” jawab Rake
“iya lho, kamu berubah banget, aku jadi pangling” timpaku
“heheh….” Rake tersenyum tipis
Terlihat Duna hanya menunduk dan meminum kelapa dengan sedotan dari bambu
“kamu kenapa Duna” tanya Rake
Duna terlihat kikuk, menoleh kekanan dan kekiri “nggak…nggak apa-apa”
“kok kamu diam aja ” Tanya Rake lagi
“anuu… ini kok enak sekali ya” Jawab Duna malu-malu
semua terdiam beberapa detik
….
“Bwahahah…” Kiruk tertawa
“Bwaahahaha…. iyaa sueegerr banget lho” aku tertawa memecahkan suasana akward tadi
“Iya Dun enak banget ini” kiruk ikutan
Aku dan Kiruk tau kalo Duna suka sama Rake makanya kita bereaksi seperti tadi.
“heheh ada apa nih…” Rake ikut tertawa kecil tapi tidak tau apa yang terjadi
“hahah… gak apa-apa” jawabku mengalihkan perhatian
“oh iya ini dari Guru Deli” aku mengambil gulugnan surat dan memberikannya ke Rake.
Rake menerimanya, kemudian membacanya. matanya bergerak ke kanan dan ke kiri memperhatikan surat itu dengan seksama.
“aku tahu maksud Guru Deli” ucap Rake masih memegang gulungan surat itu.
“mmm…. kenapa?” aku penasaran
“sepertinya ini tentang monster busuk” Jawab rake pelan sambil menaruh gulungan surat itu
wajahnya mulai serius, memandang kosong surat yang ditaruhnya tadi
“sudah kuduga” ucap Kiruk
“aku juga berpikiran seperti itu” Duna menimpa
aku hanya bingung tidak tau apa-apa melihat mereka mulai serius
“bentar-bentar bukannya itu hanya mitos ya” aku mencoba bertanya
“bukan… itu bukan mitos” jawab rake tegas. “seminggu yang lalu aku bertemu monster busuk itu”
Semua mata tertuju ke arah Rake. Dia mulai bercerita
“Saat itu aku sedang membantu bapak memanen durian. matahari mulai tenggelam, kami mulai berjalan pulang. Aku berjalan sekitar sepuluh meter di belakang bapak yang membawa sekarung durian di pundaknya. kemudian, aku mendengar ada sesuatu di semak-semak sebelah kiri. Aku berhenti sejenak melihat ke arah semak semak itu. tidak mungkin itu monster duruit. karena biasanya monster duruit harusnya tidak berkeliaran saat malam hari. Setelah aku periksa lebih dekat”.
Rake mulai menrik nafas
“ada sesuatu tiba-tiba menyambarku dari semak-semak itu. aku kaget, dia mencoba mengigitku, untung tanganku reflek menahan lehernya menggunakan lengan, hingga dia tidak sampai menggigit. Dengan sekuat tenaga aku lempar makhluk itu jauh-jauh. Dia terpental dua meter di depanku. Karena malam hari aku tidak bisa meliha dengan jelas. bapak sudah tak terlihat di depan. Dia terlihat mulai bangun dengan cepat, melihat kearahku dengan tajam. Matanya merah menyala, aroma di sekeleilingnya busuk. tidak ada hitungan detik dia mulai menyerangku dengan geramnya yang menyeramkan. aku mundur perlahan mengambil ancang-ancag untuk meng-counter dengan pukulanku. Pukulanku mengenai tepat di kepalanya. dia terpental lumayan jauh. tapi kemudian monster itu berdiri lagi. pukulanku tidak membuatnya dia ciut. aku lihat ke sekelilingku, terdapat kayu sebesar kaki orang dewasa, aku ambil dengan cepat sebelum monster itu menyerangku kembali”
“Aku siap dengan ancang-ancang memukul, seperti menunggu bola kasti. mosnter itu menyerang sesuai perkiraanku. setelah mendekat kupukul dia dengan sekuat tenaga hingga monster itu terpental dan menambrak salah satu pohon terdekat. tapa pikir panjang langsung aku lari kearahnya dan kupukulkan lagi dengan kayu beberapa kali. melihat di ujug kayu terdapat cabang yang lumayan lancip. aku ubah rotasi kayu itu hingga yang lancip berada di bawah. kupukul lagi monster itu. suara bercak-bercak terdengar, entah apa yang terjadi. aku seperti memukul kubangan air. terasa ada yang mencurat, tapi aku tak peduli. aku berharap monster itu tak lagi bergerak. setelah tak ada gerakan, aku mulai lari kembali ke rumah”. Rake mengakhiri ceritanya
Suasana tegang masih menyelimuti gubuk itu, angin tiba-tiba berhembus kencang menambah aura menyeramkan.
“kita harus segera kesana” Suara Rake berat