Kami bermalam di desanya Rake sebelum melanjutkan perjalanan esok hari. Malam itu aku dan Duna menginap di sebuah rumah sederhana, rumah itu memang dikhususkan untuk pengunjung atau tamu. Kiruk menginap di rumah Rake tidak jauh dari tempat aku menginap. Kulihat bulan purnama terlihat jelas di pojokan jendela kamarku. aku beranjak dari kasur empukku demi untuk melihat lebih jelas bulan yang indah itu. kubuka jendela perlahan, angin malam berhembus perlahan menggerakkan sedikit poni di rambutku. Aku melihat taburan bintang yang berkelip-kelip di langit.
Sawah terlihat membentang luas, diterangi cahaya rembulan yang redup dan lembut, seolah-olah menyelimuti hamparan padi dengan selimut perak. Suara serangga malam mengisi keheningan, menciptakan melodi alam yang menenangkan.
Aku melihat ada seseorang sedang duduk di atas “buk” (tembok kecil untuk pembatas jembatan.) Ku sipitkan mata untuk melihat lebih jelas siapa sosok itu, seperti tidak asing.
Aku keluar rumah dengan niat ingin mencari angin, dan merasakan suasana desa ini pada malam hari. Sambil mencari tau siapa orang yang tadi kulihat. Suasnan desa yang sudah sepi, orang-orang disini suka berkegiatan di dalam rumah jika malam.
aku berjalan keliling, hingga aku berada di tempat yang orang itu duduk. semakin dekat semakin jelas. rambut pendek yang khas, tidak asing bagiku. Ternyata itu kiruk sedang melamun sendirian menatap sawah yang kosong. menatap pantulan bulan yang tergenang di atas sawah.
Aku mendekatinya perlahan, kemudian duduk di sebelahnya. Kiruk menyadari keberadaanku
“Eh… Alnas ngapain malam-malam keluar?” ucap Kiruk spontan melihatku duduk di sebelahnya
“Kamu sendiri ngapain disini?” Aku balas dengan tanya
“jawab dulu dong pertanyaanku.” ucap kiruk pelan sambil kembali melihat ke depan
“kamu yang jawab dulu” aku mencoba mengusilinya
Kami saling menatap ke sawah yang kosong itu. hanya hamparan rumput padi yang terbentang luas. beberapa menit kita terus memandangi sawah itu.
tidak ada yang menarik.
“Alnas… apa kamu pernah berada di situasi yang sulit” pertanyaan kiruk memecah keheningan malam itu
“Sulit yang bagaimana”
“seperti menanggung tanggung jawab yang besar” lanjutnya
“Pernah… aku pernah menjadi ketua kelas” kucoba menjawab sebisaku
“lebih besar lagi”
“mengobati orang sekarat” jawabku lagi
“lebih besar ”
“melawan penjahat” kucoba lagi
“lagi”
aku terdiam sejenak mencoba mengeri apa yang dimaksud “Kenapa kamu menanyakan hal itu?” tatapan kami masih kearah sawah yang kosong itu
“Bagaimana kamu menghadapinya?” Suara kiruk pelan
“Kalau aku yakin bisa, pasti aku bisa menghadapinya” jawabku
“bagaimana kamu bisa yakin?” tanya kiruk lagi
Pertanyaan ini sedikit lebih berat
“yaa… ya…” aku bingung ingin menjawab apa
“apa yang kau maksud yakin itu Alnas. apa dengan yakin kamu bisa seratus persen berhasil menghadapi masalah itu?” ucap kiruk dengan sedikit tertawa kecil
“yaa kan kita tidak tahu kalau tidak mencobanya” aku mencoba membalas pertanyaan itu
“jika hanya ada satu kali percobaan, apa kamu masih yakin akan mencobanya?” tanya kiruk lagi.
Pertanyaan itu membuatku terpatung sementara. tidak ada jawaban yang bisa aku pikirkan untuk menjawab pertanyaan itu. tatapan kami masih sama, menuju sawah kosong itu.
sawah itu sekarang tidak lagi kosong, pikiranku seakan tergambar di atas sawah itu. bayangan-bayangan hitam dari pertanyaan maut tadi masih mencari jalan keluar. berputar-putar tak karuan.
Aku coba mencairkan suasana, menyenggol bahunya dengan bahuku dengan pelan sambil berkata “heheh kenapa sih kamu…” sambil menoleh ke arahnya
Pemandangan yang jarang kulihat. tetesan air jatuh di depan wajah kiruk. seperti terkena goncangan yang besar. air mata itu terlihat berkilau terkena pantulan sinar rembulan. Kiruk menangis? ucapku dalam hati. mukaku yang mencoba bergurau tadi seketika berubah menjadi cemas.
“kamu menangis?” tanyaku pelan, suaraku sedikit bergetar
Kiruk mengusap air matanya dengan cepat, sambil menengok menutupi sedihnya dari hadapanku.
“tidak…tidak apa-apa” jawab kiruk dengan senyumana memaksa
aku coba meraih tangannya, aku genggam erat. sambil berkata “tidak apa-apa, semua akan baik-baik saja” aku tidak mau melihat ekspresinya, memilih untuk melihat ke arah hamparan sawah.
Aku tahu dia kaget dengan responku. tapi entah kenapa tidak ada perlawanan darinya, ini membuatku sedikit berdebar.
bayangan hitam yang berterbangan tidak karuan tadi menghilang di kepalaku menyisakan pemandagan kosong. rasa hangat mulai terasa dari tanganku. entah kenapa ini lebih nyaman daripada kamar tidurku tadi.
suara pelan terdengar lembut di telinga kiri ku
“terima kasih ya”
aku tersenyum.
Matahari mulai menampakan wujudnya. kami segera berangkat meninggalkan desa itu. segera menuju ke tempat Guru Deli.
Guru Deli berada di podok kami. setelah 4 tahun tidak kesana, akhirnya kita kembali ke tempat itu. tempat kami menuntut ilmu. Pondok itu menjadi pusat ilmu pengetahuan terbesar di negeri ini. mulai dari ilmu tentang monster, ilmu kesehatan, ilmu sejarah, ilmu beladiri. dan ilmu-ilmu lainnya.
remaja dari seluruh negeri berdatangan untuk mencari ilmu disini.
“ayo cepat” ucap kiruk sambil merangkul Rake yang bertubuh besar itu
“hey…hey… santai kawan. bersemangat sekali” balas rake keheranan
aku melihat mereka berdua tersenyum kecil, terutama kiruk yang bersemangat dari awal berangkat tadi.
“itu pondoknya sudah dekat ayooo” ucap kiruk sambil menyeret rake
Sebuah perkampungan terlihat di depan kami. bangunan setengah kayu setengah beton yang dikombinasikan membuat ciri khas tersendiri yang tidak dapat ditemui di daerah lain. jalanan dari tanah halus membentang luas di tengah bangunan-bangunan tinggi di kanan kirinya. ujung jalan itu terdapat sebuah bangunan paling besar diantara bangunan yang lain. di depannya terdapat batu berbentuk kubus yang atasnya tertutup oleh kubah. tertulis di batu itu 5 pilar kehidupan, Kesucian, Persaudaraan, Kesederhanaan, Kebijaksanaan, dan Kebebasan. Bagunan besar itu adalah aula pondok kami. Tempat dimana semua kegitan penting dilaksanakan di tempat itu.
Kami mulai berjalan menyusuri bangunan-bangunan besar itu. melihat semua murid barlalu-lalang sambil membawa buku. mereka memakai seragam dengan atasan hitam mengkilap, kerah menutupi leher, bawahan memakai sarung dengan corak coklat putih dan penutup kepala khas pondok. para monster ikut memadati area yang sibuk itu. ada yang berjalan dan ada yang terbang.
“tak kusangka… sekarang sudah ramai aja” ucapku sambil melihat kesekeliling.
“sudah empat tahun kita tidak kesini ya, jadi kangen deh” kata Duna disebelahku
Kami melihat sosok tak asing. itu adalah teman kami seangkatan namanya Semang.
“Oyy Semang…” Rake memanggilnya
dia menoleh mencari tau sumber suara. kami berlari kecil ke arahnya
“lhoo kok kalian disini” Semang terkejut sambil tersenyum
“iya kami sedang di panggil guru Deli” jawab rake
“kamu sekarang jadi guru” tanyaku menebak-nebak
“hahah iya, lebih tepatnya pembina” jawab Semang
“Pembina apa” tanya kiruk
“pembina ilmu monster”
“wow” kami semua terkagum
“oiya guru Deli dimana sekarang” tanyaku
“ohh dia ada di kantornya di belakang gedung aula” sambil menujnuk ke bangunan paling besar disini
“owh oke kita kesana dulu ya” ucapku
Kami mulai berjalan perlahan menuju bangunan besar itu. melewati monumen batu berbentuk kubus
“dari dulu sampai sekarang aku masih belum paham apa maksud yang ada di batu itu” Celetuk rake sambil melihat ke arah monumen itu
“iya kan kamu suka tidur di kelas makanya ga ngerti” balas kiruk
“yeeee…. kayak kamu tau aja” balas Rake sambil memukul pelan pundak kiruk
“ihhh sakit rake” kiruk kesakitan
“dasar lemah” ejek rake
“iya lemah banget” aku ikut mengejek
“hey… kamu kok ikutan” balas kiruk sambil memandangiku
aku hanya tertawa kecil
kami mulai melewati bangunan besar itu, menyusuri lorong yang luasnya dua meter dan tingginya tiga meter.
“dulu kita sering lari-larian disini masih ingat gak” Kata duna sambil menyusuri lorong itu
“hahah iya, sampai di marahi penjaga aula” Jawab Rake
terlihat lorong ini mengitari taman kecil di tengah-tengah bangunan. di tengah taman itu terdapat pohon yang tingginya 5 meter.
“itu tempat kita selalu kumpul-kumpul sambil makan” Ucapku sambil mengingat masa-masa itu
kami menyusuri ke tempat-tempat yang pernah kami lalui dulu sambil berbincang-bincang mengenai masa lalu waktu di pondok. hingga kami berada di suatu pintu dengan ornamen kayu yang indah.
“ini ruangan Guru Deli” Ucapku pelan
aku mulai mengetuk pelan pintu kayu itu.
tok… tok.. tok…
tak sengaja pintu terdorong perlahan. terlihat seseorang sedang duduk dambil membaca buku tebal. Pria dengan janggut panjang se dada, mengunakan kacamata baca, badannya sedikit membungkuk. TIdak salah itu adalah Guru Deli.
Dia melihat ke arah kami yang tidak sengaja membuka pintu tanpa izin. segera kami memperbaiki posisi tegak.
“maaf Guru Deli saya kira tidak ada orang tadi heheh” aku mencari-cari alasan
Dia mengangkat tangannya mengisyaratakan untuk masuk dan duduk di kursi terdekat.
Meja panjang tepat berada di tengah-tengah ruangan. kami duduk berempat menghadap guru yang duduk di sebrang meja itu.
“terimakasih sudah datang jauh-jauh” guru Deli membuka pembicaraan
Dia menepuk tangan tiga kali. kemudian datang monster Pomegran terbang masuk dari fentilasai membawa secangkir minuman warna merah. monster itu menaruh minuman itu pas di depan kami ber lima.
“silahkan diminum” Guru menawarkan
Kami mencoba minuman itu. ini jus delima, terasa segar di tenggorokan.
“ada sesuatu yang penting yang ingn aku sampaikan kepada kalian” guru deli melanjutkan bicara
“sepertinya beberapa dari kalian sudah tau kenapa aku panggil kalian kesini. Itu benar, ini terkait monster busuk itu. Rumor itu mulai menjadi kenyataan, jangan sampai sejarah kelam itu terulang kembali.” Guru deli mulai menyangga kepalanya dengan kedua tanggannya
“Aku minta tolong kepada kalian, Salah satu tim terbaik di pondok ini” menyerahkan gulungan surat yang dari tadi berada di sebelah Guru
“untuk menyelidiki kasus ini” Gulungan itu terlempar mengelidnging di atas meja kemudian berhenti tepat di depanku
“gulungan itu dikirim oleh Zebi. Dia seorang penyelidik misi ini sebelumnya. monsternya yang mengirim surat ini kepadaku”
Aku mengambilnya dan perlahan membuka gulugan itu. Aku baca dengan seksama isi tulisan itu, tulisannya lumayan panjang.
“apa kalian siap?” Ucap guru
kami berdiri serentak sambil berucap “Siap Guru…”
Kami berjalan keluar, kututup pintu ruangan guru, Berhenti sejenak di depan pintu itu.
“Bener kan apa kata ku” Ucap rake
“apa isinya alnas” kiruk bertanya
aku masih memegang gulungan itu kemudian membukanya. Duna, kiruk dan Rake mendekat untuk melihat isi gulungan itu. tertulis di situ
Aku berada di dalam hutan yang lebat. aku melihat pohon besar menjulang tinggi di depanku. tidak ada pohon yang lebih tinggi daripada pohon ini. Dibawah pohonitu ada lubang besar menyerupai gua.
Setelah kuselidiki akhirnya aku menemukan titik terang. semua petunjuk menuju ke gua itu. namun, ketika aku ingin masuk kedalam aku merasakan hawa yang tidak enak. bau busuk tercium tajam keluar dari gua itu. aku menggunakan masker untuk mengurangi aroma busuk itu. kulihat monsterku tidak mau masuk kedalam, aku tahu pasti karena bau busuk itu. karena monsterku mempunyai penciuman yang tajam. terpaksa aku masuk sendiri tanpa bantuan monsterku.
maka aku mulai menulis surat ini untuk jaga-jaga. jika terjadi sesuatu padaku, setidaknya kalian tau sumber masalah ini.
Pengirim
Zebi
kami memandang dalam surat itu, memahami informasi penting yang terkandung di setiap kata-kata itu.
Matahari berada tepat di atas kepala kami. menambah kepusingan memahami isi surat tadi
“jadi gimana?” tanyaku
“kita makan dulu aja yuk. lapar” celetuk Rake sambil memegang perutnya
“kamu masih aja tukang makan rake” jawab kiruk ketus